Onrop! Musikal Pintu Terlarang Kala Janji Joni Follow Me on Twitter Meet Me on Facebook Fan Page on FB

 

Tempat-tempat yang saya sukai adalah tempat-tempat dengan benda-benda yang memiliki warna dan tekstur alami yang striking. Pasar tradisional dengan berbagai macam rempah, pasar tekstil, dan sebagainya. Tiap kali saya ke Jemaa el-Fnaa, alun-alun pusat pasar tradisional di Marrakesh, Maroko, waktu seakan terbang begitu cepat. Ada satu bagian di dalam pasar di mana aneka ragam rempah-rempah yang sudah digiling, dibiarkan menjulang tinggi dengan warna-warna yang berbeda. Seperti ujung-ujung pensil warna raksasa yang ingin rasanya saya peluk satu-satu. Setiap kali saya pergi ke mana pun, tempat yang pertama kali saya kunjungi adalah pasar tradisionalnya.

Saya juga ingin mulai diving supaya bisa melihat warna-warna di bawah laut. Sebenarnya sudah lama ingin mulai, tapi dulu rencananya melangsingkan badan dulu biar kelihatan bagus di baju diving. Tapi makin lama ternyata malah makin gendut, jadi mungkin harus mulai saja.

Well anyway, baru-baru ini saya dapat kesempatan mencoba TV Toshiba 4K. Tanpa terlalu teknis, 4K berarti resolusinya 4 kali lebih tajam ketimbang TV Full HD di kebanyakan rumah sekarang. Yang saya pakai 84 inci. Hampir lebih besar dari dinding kamar saya. Hahaha… Dengan layar selebar ini, pasti kalau TV Full HD biasa gambarnya akan pecah belepotan. Tapi Toshiba 4K memainkan film-film BluRay saya dengan bikin mata manja.

TV Toshiba 4K meng-upscale gambar dari Bluray yang full HD (1920 x 1080) ke 3840 x 2160. Sampai sehelai rambut pun kelihatan jelas. Kalau ada make-up aktor yang tidak rata, make-up artist-nya pasti akan malu nonton di TV Toshiba 4K.

Tapi kekuatan TV Toshiba 4K bukan sekedar meng-upscale gambar, tapi karena kemampuannya di empat hal ini:

1. Presisi dalam menampilkan detil dan ketajaman. Artinya gambar yang ditampilkan bukan sekedar tajam, tapi juga true-to-life. Saya sudah mencobanya menampilkan gambar percikan-percikan air. Luar biasa realistisnya.

2. Saturasi yang kental dan natural. Jadi untuk menampilkan hal-hal yang warna-warnanya striking, saturasi yang ditampilkan TV Toshiba 4K ini kental dan sangat enak di mata. Seperti masuk ke dunia yang ditampilkan di layar.

3. Kemampuan menampilkan gradasi gelap terang yang ciamik. Nah, sekarang saya sering memutar film-film koleksi saya lagi biar pun sudah pernah saya tonton. Karena ketika diputar di TV Toshiba 4K, gradasi gelap terangnya bagus sekali. Banyak detil-detil di daerah gelap yang tadinya hanya terlihat hitam kosong, di TV Toshiba 4K tiba-tiba keliatan detilnya.

4. Kemampuan untuk menampilkan warna natural. Biasanya skin tone aktor susah didapat kalau diputar di TV. Nah, TV Toshiba 4K bisa tuh menampilkan warna skin tone atau warna-warna natural lainnya dengan benar.

Saya sendiri adalah penonton yang perfeksionis. Kalau saya nonton film, saya ingin gambar dan suaranya memang seperti yang dimaksudkan oleh pembuatnya. Saya ingin melihat detilnya, karena saya sebagai pembuat film selalu memperhatikan detil. Jadi saya tahu rasanya kalau penonton menonton film dengan seadanya. TV Toshiba 4K sangat berhasil memberikan pengalaman menonton seperti yang saya inginkan. Bukan saja untuk film yang saya koleksi, nonton acara TV HD dari kabel juga seperti pengalaman baru buat saya dengan TV Toshiba 4K ini.

Silahkan lihat-lihat penjelasan lebih lanjut tentang TV Toshiba 4K di: http://www.beautysupreme.co.id Di sana bisa dilihat beberapa contoh kelebihan TV Toshiba 4K yang sudah saya bahas di atas. Ada juga film pendek saya yang saya pakai untuk menjajal kehebatan TV ini.

 

Saya masih ingat ketika pertama kali dibawa ibu saya ke pasar kain waktu saya berumur 6 tahun. Saya belum pernah melihat tempat yang begitu penuh warna. Lebih berkesan lagi ketika kain-kain itu saya sentuh. Begitu lembut. Bahkan dengan mata tertutup pun saya masih bisa merasakan warnanya.

Saya tidak tahu apakah perjalanan ke pasar kain waktu itu yang membuat saya kemudian menjadi suka berada di tempat-tempat yang penuh warna, yang saya ingat, itu awalnya saya suka memperhatikan bentuk dan warna benda-benda serta menyentuh teksturnya. Tidak selalu menyenangkan memang. Pernah waktu kecil saya terkesima melihat kabel-kabel listrik warna-warna dan saya pegang-pegang, tanpa mengetahui ada satu kabel yang terbuka. Hari itu, saya tahu rasanya kesetrum listrik, seperti ada yang memukul dada dan punggung kita secara bersamaan dengan sangat keras.

Sudah sejak lama saya ingin membuat film yang menampilkan warna-warna dan tekstur-tekstur banyak benda. Tapi tentu saja, merekam warna-warna mudah, tapi menggabungkannya dalam satu jalinan cerita merupakan tantangan yang berbeda.

Akhirnya, saya memutuskan untuk memasukkan ingatan-ingatan saya sewaktu kecil, benda-benda yang dekat dengan saya waktu itu ke dalam skenario. Saya mau cerita ini menjadi cerita yang personal. Masa kecil saya, atau siapapun, tidak hanya diisi oleh hal-hal yang menyenangkan. Tapi juga patah hati, harapan, dan hubungan kita dengan orang-orang yang kita sayangi. Saya mau membuat orang melihat ke belakang dan menerima bahwa semua yang mereka alami, bisa menjadi indah pada waktunya. Dan bagaimana kita yang sudah jaded dengan hidup, bisa mendapatkan kejutan yang akan memutarbalikkan pandangan kita terhadap hidup. Maka dari itu, film ini saya beri judul The New-Found.

Mencari pemain ternyata memakan waktu yang lama untuk proyek ini. Setelah sebulan mengadakan casting dan belum menemukan pemain yang  cocok untuk menjadi Andy, karakter utama dalam The New Found. Beberapa hari sebelum proses casting selesai,  saya ingat Abimana Aryasatya. Aktor muda watak yang selama ini selalu memberikan penampilan yang baik dalam tiap film yang dia bintangi. Ketika kami bertemu, saya dan para produser langsung bisa melihat bahwa Abimana adalah Andy. Ada banyak kesamaan antara keduanya, paling tidak dari tampak luar. Andy adalah karakter yang diam tapi selalu meneliti, memperhatikan detil-detil hidup dan orang-orang. Setelah karakter Andy terpilih, pemain-pemain lain langsung kami temukan, termasuk Bonita Lauwoie dan M. Fadil yang berperan sebagai Andy kecil.

Untuk lokasi, skrip membutuhkan tempat dari mulai gunung sampai pantai dan everything in between. Masalahnya, kami hanya punya waktu 4 hari syuting dan sudah pasti membutuhkan lokasi di luar Jakarta.

Setelah melakukan survey dan location scouting, kami memutuskan untuk syuting selama 2 hari di Malang karena memungkinkan untuk perjalanan dari Bromo sampai ke Pulau Sempu. Jadwal syuting yang sangat ambisius karena dalam sehari kami sudah harus memakan setengah hari untuk perjalanan. Di Malang, kami juga suting di beberapa tempat, termasuk di pasar burung Splendid yang sangat hiruk pikuk. Padahal kami cuma punya waktu dua jam untuk suting di sana, termasuk membuat satu set pasar loak yang sempat dikerumui orang banyak yang terkecoh set yang  kami buat dan ingin membeli  barang-barang yang ada di set.

Khusus untuk Pulau Sempu, kami memutuskan untuk mengambil lokasi di dekat pantai yang memang digunakan para nelayan dan bukan cagar alam supaya tidak merusak ekosistem. Memang harus kerja ekstra membersihkan pantai, tapi hasilnya bikin capek hilang.

Tapi semua berjalan dengan mulus dan menyenangkan. Kalau cuaca mendung, para kru dan pemain memutuskan untuk jalan-jalan dan wisata kuliner.

Untuk lebih jelasnya, silahkan melihat situs The New Found di http://www.beautysupreme.co.id

photo 8 photo 7 photo 6 photo 5 photo 1 photo 2 photo 3 photo 4

Hum Away


April 23rd, 2012 | Daydreams | 5 Comments »

Hum Away

I can’t seem to find the way
I just know I’ll be okay
I don’t mind to wait longer
And I know I’ll be stronger

While you sit there and you judge me
Take a turn take a stab at me
With my wounds with my scars
I’ll just walk away

I was born with no home
with no country just a dome
made of silk, lots of sighs
and two cautious weary eyes
While the world full of injustice
You object my quest but get this:
not a soul can match me when I hum away

Hmmm… Hmmm… Hmmm…
Hmmm… Hmmm… Hmmm…

Till the day it will come
Play the violin bang the drum
I will tell the whole story
black and white in all its glory
And I challenge you to notice
That I’m just one small apprentice
to the Lord who loves me when I hum away

Hmmm… Hmmm… Hmmm…
Hmmm… Hmmm… Hmmm…

This is a copy-paste review from movies.com

Di-copas di sini karena movies.com diblok oleh beberapa provider di Indonesia. :)

Modus Anomali Poster

Horror at SXSW: ‘Modus Anomali’ and Films That Kill a Second Time Around

By 

There’s an unfortunate trend growing these days, especially when it comes to genre titles, where a film must either be the best or worst ever. The middle ground is vanishing and that’s rarely more apparent than at a film festival. Perhaps that’s because of how much of a commitment film fests represent. You pay for a badge, you spend your entire days alternating between standing in long lines waiting to watch movies and actually watching movies. And while there are certainly more taxing ways to spend your time, normally a film festival means the bar is set fairly high. So when you come across a movie that doesn’t meet expectations, disappointment is understandable. But does disappointment automatically mean that a movie is utterly worthless? You’d think so given the reactions to at least one of the films playing in the Midnight program at SXSW.

Case-in-point Modus Anomali, an English-language Indonesian horror film from Joko Anwar (The Forbidden Door) that opens with a guy climbing out of a shallow grave in the middle of a dark forest with no memory of why he’s there or what his name is. He doesn’t know what’s going on, the audience doesn’t know what’s going on, and what follows is a slow mystery that lets its action beats leak out in measured drops until its plot reservoir hits a tipping point and finally spills over, reshaping everything we’ve spent the bulk of the film getting to know. And honestly, I didn’t really get the film the first time.

While the credits rolled, I found myself wondering what the point of it all was. I wasn’t convinced it made logical sense, and yet at the same time, I couldn’t hate the film because part of me still felt that there was just something I was missing about the film; some crucial primer that would let me unlock it. On top of all that, of the handful of people I discussed the film with, no one seemed to be arriving at the same interpretation. Regardless of the shared (or lack thereof) comprehension, though, there did seem to be one consensus from the Twitterverse: Modus Anomali was a terrible and thematically ugly (visually it’s remarkable) movie with a mean streak.

Even though I didn’t agree with that extreme of a reaction, knowing it was out there had me dreading a second screening. I had agreed to host the intro and Q&A for the film, and going off of what I was reading on the web and overhearing in lines, people were not digging the film’s dramatic twists and turns, and I had visions of standing helplessly at the front of the Drafthouse next to a filmmaker with only two possible outcomes: One, he’d be berated with questions from even more people who didn’t like his movie. Two, the crowd would have shared my initial reaction to the film and be dead silent in their puzzlement, leaving me to ask all the questions about a movie I wasn’t even convinced I understood.

I wasn’t expecting what actually happened, that Modus Anomali would not only click perfectly the second time, but that I’d find myself really digging and understanding the funky, atypical track it was on. And as if that wasn’t enough to restore confidence in hosting the Q&A, most of the audience not only stuck around (keep in mind it was close to 2 AM by the the time it ended), but were enthusiastic for the film and had plenty of questions to ask. On top of that pleasant surprise, writer-director Joko Anwar ended up having a great sense of humor, offered valuable insights into his process and motivation, and even ended up singing the film’s song a cappella on stage.

Now, I won’t say specifically what it was that made the film fall into place for me the second time, because to pinpoint it would be a huge spoiler, but it goes to show that we shouldn’t be so quick to segregate films as either the best or worst. Exploring that middle ground can lead to great things. I certainly don’t think that Modus Anomali is a flawless film just because I watched it a second time, but doing so cleared up all of the lingering questions I had from the first watch. It made me see it for what it is: a memorable entry to the serial killer niche with playful twists and a unique premise.

It also made me wonder if I should give The Tall Man a second chance as well. I found the second film from the director of Martyrs to have a fantastic opening hour that gave way to a dry, meandering second half that seemed completely out of touch with the pulse-pounding chase film it started as. As with Modus, Pascal Laugier’s film got mostly negative buzz from its world premiere. Unlike with Modus, though, I didn’t feel like I was missing a crucial way into the film. I thought it was perfectly accessible the first time around, there just wasn’t anything on the inside. But hey, maybe a second watch will clear that up.

Having said all that, I don’t think all movies deserve a second watch. The burden is absolutely on the filmmaker to hook us the first time, and if they don’t, too bad. I do, however, wish that people weren’t so quick to dismiss films outright; that they leave themselves open to discussion. Obviously we’re not all going to love the same films, but if you’re going to have a reaction so passionate it borders on anger, that might be intentional. Sometimes confusion, frustration and surprise is the exact hook the filmmaker is going for, and while that may be jarring at first, it can pay off in the end.



My Favorite Hamster


August 17th, 2011 | Daydreams | Comments »

His father loves to plant some trees
In the end always comes to his mother
Hamsters are trapped in cages or free
But yes he’s a hamster like no other

His heart beats in two takes
His eyes as piercing as a torch
He loves to eat many cupcakes
But never he wants me to watch

He doesn’t seem to like many talks
His kisses brighten and whiten all the grays
He may be frustrating when he sulks
But when he’s happy he’s brighter than sunrays

I’m a gorilla falling in love with a hamster
Even my slightest movement disturbs his peace
But for him I’ll swim in the blackest dumpster
As long as in the end he gives me a tease

Saya adalah bagian dari generasi gegar budaya. Setiap hari saya menonton film Amerika, ingin jadi seperti pembuat film dari Korea, percaya bahwa dialek Skotlandia adalah dialek terseksi di dunia, dan selalu menutup hari dengan masturbasi sambil nonton film porno dari Jepang. Sementara itu, film yang akan saya buat adalah film tentang wayang Jawa.

Saya adalah bagian dari generasi berpikiran dangkal. Kalau generasi di atas saya diberkati dengan kata-kata bijaksana dari para pemikir dunia -Ranciere, Badiou, Agamben, Zizek, dan sebagainya- saya adalah bagian dari generasi yang lebih suka mengadopsi kata-kata petuah dari twitter, dari dialog-dialog yang diucapkan karakter-karakter sitcom yang mungkin ditulis oleh orang-orang yang mungkin tidak bisa mempertanggungjawabkan hidup mereka sendiri.

Saya adalah bagian dari generasi bingung. Bukan karena sering dicap tidak ingat akan akar budaya sendiri, atau kenapa saya lebih tertarik pada sampah ketimbang seni. Tapi kenapa dunia seperti berjalan mundur. Kenapa dunia semakin lama semakin mendekat ke konservatisme, fanatisme agama, ras, geografi. Kenapa orang-orang semakin tidak bisa menerima perbedaan. Kenapa para pejabat dan wakil rakyat kebanyakan diisi oleh para the has-beens, the wash-outs, dan mereka yang mengikuti arah dari mana datangnya uang. Kenapa negara tidak dijalankan oleh negarawan melainkan oleh produk dari hasil tawar menawar politik.

Kita tidak lahir sebagai makhluk yang bertanya. Kita lahir sebagai binatang yang menerima apa saja yang dilakukan kepada kita. Kita mulai jadi manusia ketika kita mulai bertanya. Yang membuat kita bisa bertanya adalah saat kita mulai bisa memproses informasi. Semakin banyak informasi, semakin banyak pertanyaan yang dihasilkan oleh otak. Pengajaran nilai-nilai tradisi dan agama sering tidak memberikan jawaban, hanya perban sementara. Lebih buruk lagi, pengajaran nilai-nilai tradisi dan agama sering memberikan janji-janji yang menggiurkan hanya jika kita mau berhenti bertanya. Jika kita kembali menjadi binatang.

Di luar strata yang terlihat permanen dan seperti selalu berputar kembali ke titik nol ini, berdiri lah seni.

Saya ingat pada tahun 1997, saat hidup saya diselamatkan oleh musik dan tulisan orang-orang yang gelisah. Karya-karya mereka tidak memberikan jawaban, tapi menghancurkan tembok yang memisahkan saya dari kebebasan untuk berpikir. Informasi memberikan saya pilihan, seni mengaktifkan otak saya untuk bisa membuat pilihan-pilihan dengan lebih sadar. Atau bahkan membantu saya menemukan pertanyaan yang benar.

Seni yang berguna adalah seni yang jujur. Dan jika seni itu jujur, dia tidak akan mencoba menggantikan posisi agama dan nilai-nilai tradisi dengan memberikan jawaban sederhana. Jika seni itu jujur, dia tidak akan berkontribusi pada kesempitan pikiran yang menjadi masalah dunia, yang jadi masalah terbesar negara kita pada saat ini. Jika seni itu jujur, dia akan memberikan yang dibutuhkan dunia: alat pendobrak kesempitan pikiran yang selalu berusaha mendorong batas nilai-nilai.

Indonesia masih dipenuhi orang-orang yang lebih suka diberikan konfirmasi bahwa apa yang selama ini diajarkan kepada mereka adalah kebenaran mutlak. Sehingga banyak para oportunis yang mencari nafkah dengan mengatasnamakan seni menjual relijiusitas murahan dan nasionalisme sempit. Ini hanya membuat masyarakat semakin malas berpikir, dan inovasi-inovasi yang membuat hidup lebih baik akan semakin jarang muncul dari orang-orang Indonesia.

Ini adalah anti-seni yang membuat pikiran rakyat semakin sempit, semakin tidak bisa menerima perbedaan. Yang akan tetap mendorong timbulnya bentrokan-bentrokan.

Kemudahan dan fasilitas yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi telah membuat munculnya lebih banyak seniman dan pemikir. Saat ini, semua orang bisa menjadi seniman. Seni lukis, fotografi dan sinematografi, tulisan, musik, dan lagu. Semua orang bisa dengan gampang mempublikasikan karya mereka.

Saya beruntung lahir sebagai generasi yang mengalami dua fase di negeri ini. Saya sudah bisa berpikir saat pemerintah masih represif terhadap kebebasan menyiarkan dan mendapatkan informasi serta berekspresi dalam seni. Saat ini, saya tidak percaya bahwa represi pemerintah masih merupakan hambatan dalam berekspresi. Internet telah membuat ini mungkin dilakukan dengan cara mengadopsi anonimitas.

Represi yang kini ada, justru adalah represi oleh rakyat. Rakyat yang masih berpikiran sempit yang disebabkan oleh pengajaran agama yang tidak tepat dan nasionalisme sempit yang ditanamkan oleh pemerintah terdahulu dan para seniman anti-seni. Karena pemerintahan saat ini bukan lah pemerintahan memiliki kapabilitas, mereka cenderung bersifat reaktif. Mereka akan ikut represif jika rakyat represif untuk menjadi populer.

Melawan represi yang dilakukan rakyat sendiri lebih sulit ketimbang melawan represi yang dilakukan adalah pemerintah karena perlawanan tidak bisa dilakukan seperti melawan musuh. Salah satu cara berekspresi seni di kondisi ini adalah menyamarkan statement dalam bentuk karya yang lebih populis. Entertainment with a mission. Tentu saja orang yang mau berekspresi secara lebih eksplisit juga dibutuhkan karena keduanya sama-sama mendorong batas sampai akhirnya kebebasan berpikir tidak lagi jadi sesuatu yang dianggap berbahaya.

Seni dan informasi adalah rekanan yang paling bertanggung jawab untuk percepatan kemampuan untuk berpikir terbuka. Saat ini, seniman dan penyiar informasi mau tidak mau harus bisa menjadi aktivis untuk perubahan ini. Tentu saja kita tidak bisa menghakimi mereka yang lebih nyaman berekspresi dengan membuat keberjarakan dengan rakyat kebanyakan. Tapi yang paling dibutuhkan saat ini adalah merangkul rakyat dan secara menyenangkan membuka pikiran mereka.

(Dibacakan sebagai orasi budaya pada HUT Aliansi Jurnalis Independen (AJI), 8 Juli 2011)

Film Indonesia sedang hangat-hangatnya disambut penonton, wartawan, kritikus. Berita konferensi pers peluncuran film baru hampir tiap hari terdengar. Para penonton berbondong-bondong ke bioskop untuk nonton film Indonesia. Bioskop-bioskop didominasi oleh film Indonesia. Film Indonesia punya masa depan cerah. Bukan cuma untuk jadi tuan rumah di negeri sendiri, tapi mungkin juga akan jadi tuan tanah, juragan kos. Nothing but possibilties.

Tapi itu dua tahun yang lalu.

Sekarang film Indonesia kembali dipandang sinis oleh penonton, kritikus. Film-film lokal baru bukan cuma jarang muncul (tahun 2008 bisa dua atau tiga film baru seminggu), tapi kalaupun muncul tak terdengar beritanya. Kalau pun terdengar, tak lain hanyalah publicity stunt murahan yang diduga kuat dibikin oleh produsernya untuk menarik perhatian penonton: perkelahian antara pemain di set syuting, pelecehan seksual yang dilakukan terhadap aktris oleh aktor (yang diduga kuat gay). Perfilman Indonesia seakan berubah menjadi sirkus di mana keramaian terjadi di luar tenda. Begitu penonton masuk ke arena untuk menonton pertunjukan yang sesungguhnya, yang ada bukan cuma pertunjukan yang membosankan, tapi sebuah terapi penurunan I.Q. dan program peningkatan tekanan darah. Membodohkan dan menjengkelkan.

Akhir tahun 1980an, saat televisi-televisi swasta mulai bermunculan dan menayangkan banyak film-film luar yang bagus dan bisa ditonton orang dengan gratis, para pembuat film Indonesia tidak mampu bersaing. Banyak yang berargumentasi bahwa praktek monopoli grup Cineplex 21 pada saat itu adalah penyebab kematian film Indonesia. Tapi sebagai penonton film, yang saya rasakan adalah pembuat film Indonesia tidak mampu memenuhi tuntutan penonton untuk film yang lebih well-made. Para produser kemudian mencoba bertahan dengan membuat film dengan judul-judul yang merangsang. Ranjang Ternoda, Gairah Malam, Setetes Noda Manis (nggak tau noda apa. Mungkin kencing tikus), dan sebagainya. Di tahun-tahun pertama, para penonton berbondong-bondong masuk ke bioskop (termasuk saya). Tapi setelah yang disuguhkan hanyalah para aktris yang main siram-siraman di kolam renang atau pantai memakai bikini, lalu berciuman dengan lawan main seolah-olah ciuman baru diciptakan dua bulan sebelumnya sehingga mereka tidak tahu caranya bagaimana, para penonton pun ogah menonton lagi.

Akhir tahun 1990an dan awal 2000, para pembuat film yang juga film buff yang dibekali teknis yang memadai untuk membuat film dan tahu apa yang diinginkan penonton, mulai membuat film. Film Indonesia mulai menggeliat kembali.

Sampai akhirnya semakin lama semakin banyak ‘petualang film’ yang ikut-ikutan membuat film, tergiur dengan gosip betapa menguntungkannya bisnis film. Mereka adalah orang-orang yang bukan hanya tidak tahu teknik dasar membuat film, tapi juga miskin papa hina dina dalam citarasa.

Awalnya, mereka berpikir bahwa film horor adalah genre film yang paling pasti ditonton orang. Genre horor yang seharusnya merupakan genre yang paling jujur, paling menghibur tanpa pretensi, diperkosa beramai-ramai hingga compang-camping. Difitnah sehingga harga dirinya tak ada harganya lagi. Sampai-sampai orang-orang berpikir bahwa horor identik dengan busuk. Padahal kalau dibikin dengan benar, film horror adalah genre film yang paling mampu menghidupkan bisnis perfilman. Lihat saja Thailand. Film-film horor luar biasa yang mereka bikin telah diimpor banyak negara dan menjadikan bahasa Thailand menjadi bahasa dunia. Bahkan pembantu saya pun sekarang bisa mengucapkan “sawatdee ka”.

Kemudian para petualang bisnis film ini masuk ke genre komedi yang biasanya dibaluti dengan seks. Orang-orang ini sepertinya sama sekali tidak punya sense of humor dan tidak kenal seks sama sekali karena film yang mereka buat tidak lucu dan tidak bikin konak.

Situasi berulang kembali seperti awal 1990an. Para penonton awalnya ingin tahu nonton film Indonesia karena judul dan gosip-gosip pembuatannya. Tapi setelah mereka menonton filmnya, yang mereka lihat adalah terapi penurunan I.Q. dan program peningkatan tekanan darah. Bodoh dan menjengkelkan. Saat ini, sulit sekali untuk meyakinkan banyak orang untuk menonton film Indonesia.

Di mana salahnya? Bukankah di luar negeri pasti juga banyak orang-orang tanpa otak dan citarasa yang ingin masuk ke dunia film? Jawabannya adalah karena di Indonesia tidak dikenal sistem distribusi film lokal.

Di luar negeri, setelah produser selesai membuat sebuah film, mereka akan berusaha untuk menjual film itu ke distributor film yang kemudian akan berusaha membuat deal dengan pemilik bioskop supaya film itu ditayangkan. Para distributor ini bisa dilihat sebagai saringan film yang akan ditayangakn di bioskop. Mereka hanya akan membeli film yang mereka anggap layak untuk diputar di bioskop. Karena mereka biasanya tidak ikut campur dalam pembuatannya, mereka tidak punya attachment atas sebuah film sehingga lebih objektif.

Di Indonesia, setelah seorang produser selesai membuat sebuah film, mereka sendiri yang akan mendatangi para pemilik bioskop dan melakukan deal dengan pemilik bioskop supaya filmnya diputar. Dan setahu saya, 99% film Indonesia yang dibuat pasti akan diputar di bioskop. Entah karena apa pemilik bioskop selalu mau menerima film Indonesia untuk ditayangkan di bioskopnya. Mungkin karena kedekatan personal.

Yang pasti, bioskop sekarang dipenuhi oleh sampah yang diproduksi oleh orang-orang yang berpikir hanya karena mereka bisa menyewa kamera digital dan ada aktor-aktor palsu yang bisa jalan dan buka mulut, mereka tinggal point and shoot and voila! Mereka sudah jadi pembuat film.

Yang kasian adalah orang-orang yang memang punya bakat untuk berkarya yang kehilangan kepercayaan masyarakat. Dan penonton tentunya. Seharusnya di sebalah meja penjualan tiket juga da meja untuk minta uang kembali. Kalau mereka ingin ikut program penurunan I.Q. dan peningkatan tekanan darah, mereka bisa nonton sinetron.